Selasa, 21 Agustus 2012

Flu Anjing Laut, Ancaman Mematikan Manusia?

Strain baru dari flu burung (avian flu), yang melompat dari unggas ke mamalia, bertanggung jawab atas kematian 160 anjing laut di perairan New England tahun lalu. Demikian hasil penelitian terbaru para ilmuwan.

Seperti dimuat CNN, para ilmuwan mengatakan, secara teoritis, virus itu bisa menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia.


hickerphoto.com

Para ilmuwan mengatakan, awalnya anjing laut, yang kebanyakan berusia kurang dari enam bulan, mulai terserang pneumonia berat dan lesi pada kulit September 2011 lalu.



Selama beberapa bulan berikutnya, setidaknya 162 bangkai anjing laut ditemukan di sepanjang perairan Maine sampai Massachusetts.


Pengujian post-mortem menunjukkan keberadaan strain virus flu H3N8, yang juga disebut seal H3N8.


"Saat tes awal menunjukkan virus flu burung, kami lantas bertanya-tanya: bagaimana bisa virus itu melompat dari burung ke mamalia," kata ketua tim peneliti, Simon Anthony dari Columbia University.


Lebih jauh lagi, para ilmuwan mengatakan, virus ini mengembangkan kemampuan untuk menyerang saluran pernapasan mamalia. Virus juga telah mengembangkan peningkatan virulensi (kemampuan untuk menimbulkan penyakit) dan transmisi pada mamalia. Namun, para ilmuwan harus melakukan lebih banyak tes untuk memastikannya.


Para ilmuwan mengingatkan kasus flu burung, khususnya H1N1 dan H5N1, yang telah menyerang manusia hingga menimbulkan kematian. Keberadaan strain baru tentu saja bisa menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat.


Pada Januari 2012, Organisasi Kesehatan Dunia telah mengkonfirmasi telah terjadi 583 kasus H5N1 (flu burung) pada manusia yang menyebabkan 344 kematian.


"HIV/AIDS, SARS, West Nile, Nipah dan influenza adalah contoh penyakit menular yang berasal dari hewan," kata W. Ian Lipkin, direktur Pusat Infeksi dan Imunitas di Columbia University.


"Setiap wabah penyakit pada hewan domestik atau satwa liar, tak hanya merupakan ancaman langsung terhadap konservasi satwa liar, juga harus diwaspadai karena dapat berbahaya bagi manusia," kata dia.


Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal American Society for Microbiology, mBio.



sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar